Berhenti dulu.

Sudah hampir tiga bulan saya off (sementara) dari dunia mengajar. Ya, setelah saya memutuskan untuk resign dari sekolah dan memilih untuk fokus pada anak-anak demi kepindahan segera ke Sabang menyusul suami. Meski terkesan lebih free, tapi ternyata tidak selalu begitu ๐Ÿ˜Š. Ini pertama kalinya buat saya tidak punya penghasilan sama sekali dan hanya mengandalkan top up dari suami. Maklum lah, sejak kuliah dulu sudah terbiasa punya uang tambahan mulai dari kerja part time, ikutan proyek sampai bikinin skripsi. Merasakan bisa beli barang-barang yang dipengen dengan tanpa minta orangtua itu rasanya beda banget jaman single dulu, meski sebenarnya kalau minta juga akan dikasih kok, wong saya juga belinya jarang banget barang branded mahal.

Ketika sekarang saya (sementara) off ini, keterampilan untuk mengatur keuangan benar benar harus diperhatikan. Dengan keterbatasan income saya harus cermat mengatur uang belanja, uang sekolah, uang hiburan, sampai uang tabungan dan sedekah. Sebagian besar pendapatan kami sekarang sedang disishkan untuk mengisi rumah yang di Sabang.

Rumah dinas yang mulai ditempati oleh suami awal Oktober dulu kondisinya memang kosong, bahkan saluran air pun tidak ada. Meski begitu, kami sangat bersyukur bisa tinggal disitu. Yah, paling tidak kami tidak perlu memikirkan mencari tempat dan membayar uang sewa untuk tempat tinggal. Dari sisa tabungan dan menyisihkan gaji (yang jumlahnya masih di bawah UMR Sabang), kami mulai mengisi rumah dengan perabot seadanya. Untuk meja dapur dan lemarinya bahkan suami membuatnya sendiri. Antara terpaksa atau mepet, saya sendiri kaget dengan hasilnya. Ternyata suamiku bisa juga nukang kayu ternyata ๐Ÿ˜Š. Alhamdulillah, kadang ada pendapatan lain dari nge-FASEL kalau pas libur yang bisa digunakan untuk menambah beli pisau dan rak piring.

Rejeki itu bukan melulu tentang uang dan tentang jumlah. Bisa mendapat kesempatan baik, dikelilingi oleh orang baik, diberikan kesehatan, ditentramkan hati, diaturkan waktu, itu juga bagian dari rejeki yang sangat wajib kami syukuri. Malu lah kalau tidak bersyukur, Gusti Alloh sudah baik baik sama kami sekeluarga.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s