Kuliner ngangeni, Sambal Cabuk

P_20160315_124016.jpg

Selain karena pantai, Gunungkidul dikenal dengan makanan ekstrem nya; sebut saja belalang kayu alias walang, puthul, segala macam ulat dan enthung, dan masih banyak lagi. Tidak cuma yang ekstrem makanan ndeso yang ngangeni lainnya (buat saya sih) ada thiwul, sambel cabuk.

Nasi tiwul terbuat dari tepung gaplek, yakni singkong yang dikeringkan dan ditumbuk. Tiwul biasanya dinikmati bersama ikan asin, sayur lombok dan kuluban, sambal bawang, atau cabuk. Bagi yang tak terbiasa makan nasi tiwul mungkin akan merasakan perut panas. Biasanya untuk menghilangkan efek itu ditambah atau dicampur dengan nasi putih.

Nah, kalau cabuk ini jenis makanan ‘teman’ nasi tiwul maupun nasi putih dengan harga sangat terjangkau, namun bercitarasa khas, manis pedas dan beraroma daun kemangi. Yang saya paling suka kalau makan cabuk dengan tangan, pasti tangan akan menjadi hitam..hehe….Sambel cabuk biasanya dikemas dalam bentuk gulungan daun pisang ukuran kecil sekitar 10 an cm. Cara pembuatan cabuk gampang-gampang susah, lumayan njlimet, butuh kesabaran untuk mendapatkan cabuk yang halus dan khas.

Bahan dasar utamanya adalah dari biji tanaman wijen. Biji wijen umumnya diperas menghasilkan minyak wijen. Minyak wijen ini termasuk minyak alami. Selain digunakan untuk mengolah makanan juga bisa berfungsi sebagai obat. Tak heran harganya lebih mahal daripada minyak umumnya. Ampas hasil pemerasan biji wijen inilah yang dipergunakan sebagai bahan baku pembuatan cabuk.

Lalu bagaimana cara pembuatan cabuk ini? Seperti yang saya dapat disini, cara pembuatannya adalah :

Pertama-tama biji wijen yang masih mentah digoreng tanpa minyak hingga matang. Setelah matang, lalu ditumbuk hingga menjadi semacam tepung. Lalu dikukus dengan dicampur air sedikit sekitar satu jam. Kemudian dicampur Londo, ampas kelapa dan dikukus lagi selama sejam. Londo dibuat dari klaras (daun pisang kering) yang dibakar di kuali bercampur air, lalu ditumbuk menjadi tepung. Londo inilah yang membuat warna cabuk jadi hitam. Setelah itu, cabuk dibumbui agar ada rasanya. Bumbu yang dibutuhkan diantaranya cabe, bawang putih, gula jawa, daun kemangi muda, parutan kelapa lalu dibungkus daun pisang hingga berbentuk gulungan. Ukuran gulungan ini tergantung selera, bisa besar maupun kecil. Kemudian dipanggang diatas bara api, seperti dipepes. Bisa juga langsung dibuat sambal cabuk, dengan campuran garam, gula jawa, cabe rawit, bawang putih dan daun kemangi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s