Makan Bersama, tidak Sekedar Tradisi

Keluarga saya, bukan lah keluarga besar. Kami hanya terdiri dari Bapak, Ibuk, Adik, dan Saya sendiri. Meski kami hanya berempat yang cenderung keluarga masa kini (tidak seperti keluarga suami yang sembilan bersaudara), kami punya beberapa tradisi yang awalnya saya pikir kuno, tetapi ternyata membekas sampai sekarang. Salah satunya adalah tradisi makan bersama, pokoknya makan gak makan asal kumpul gitu lah.

In my family, even when I was not hungry, I would go sit in the dining room together anyhow. Tidak sekedar makan bersama sih, tetapi di saat kumpul inilah kami bisa bebas bercerita apa yang mau diceritakan. Kata Bapak, momen begini bisa mengeratkan ikatan batin kami agar selalu rukun. Tradisi atau mungkin disebut kebiasaan saja lah  Makan Bareng ini sudah diterapkan oleh Bapak dan Ibuk sejak kami kecil, sejak SD mungkin tepatnya, karena jaman saya TK dulu Bapak sedang tugas negara ke Timor Leste (dulu namanya Timor Timur, masih propinsi di Indonesia). Kami terbiasa dengan pindah-pindah tempat tinggal sejak sebelum TK, terbiasa ditinggal pergi Bapak atau Ibuk untuk melaksanakan tugas negara, sehingga saat-saat kumpul itu menjadi saat yang berharga bagi kami.

Sejak saya SD, kami sudah mulai tidak pindah-pindah lagi. Ya, terhitung sepertinya hanya 2x dan akhirnya menetap sampai sekarang. Bisa dibayangkan, sejak saya kecil kami pindah tempat tinggal itu tidak kurang dari 7x. Saat mulai menetap inilah, makan bareng menjadi agenda rutin kami.  Bahkan tidak jarang Ibuk atau Bapak sengaja membuat waktu spesial kita makan di luar entah di warung makan maupun di tempat wisata dengan membawa bekal dari rumah.

Trus, kenapa sih harus makan bareng? Tenyata manfaatnya baru kerasa ketika kami anak-anaknya sama-sama besar. Kami selalu ingat satu sama lain saat susah maupun senang, terutama yang berhubungan sama makanan. Misal ya, ada makanan enak gitu, kami masing-masing sudah sadar diri untuk tidak menghabiskannya meskipun sangat doyan. Selalu disisihkan sedikit untuk anggota keluarga lain yang saat itu sedang gak ada.

Sedikit shock ketika saya sudah menikah. Keluarga suami tidak menerapkan ini. Kami masing-masing cenderung makan sendiri-sendiri saat jam makan tiba. Berkebalikan juga yang terjadi ketika ada makanan terhidang di meja. Yeah, mungkin karena terlalu berlebihan ya, kadang saya menjadi baper merasa tidak diangggap dan semacamnya. Padahal sebenarnya tidak begitu, toh semua rukun dan baik-baik saja. Hehehe

Dan nyatanya, memang benar! Ini yang selalu ngangeni, karena berhasil ngebounding kami. Di keluarga kecil kami, saya suami dan absha..tradisi ini pun selalu berusaha kami terapkan. Semoga ini bisa menjadi salah satu media lagi kami saling rukun dan romantis.. Ea..🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s