Serius, Dia Gak Mau Makan??

Hampir semua orangtua terutama ibu dan nenek atau kakek khawatir kalau si kecil gak mau makan.. Tapi…saya termasuk salah satu orang yang enggak percaya anak ga mau makan. Buat saya yang ada anak belum mau makan. Kenapa harus bingung kalo anak ga mau makan?
“apa ga kelaperan nanti anaknya?”
“nanti gizinya dari mana kalo ga makan?”.

Menurut saya, yang harus kita lakukan dari awal adalah …

1. Kenalkan rasa lapar.

Secara alami manusia sudah dikasih rasa lapar. Prinsipnya sederhana, kalo lapar maka kita akan makan. Ini gak terjadi secara tiba-tiba tapi ada hormon yang mengaturnya. Jadi sebenarnya anak gak akan membiarkan dirinya kelaparan.
Pertanyaan mendasar buat kita orang tua adalah, Apakah anak kita merasa lapar? Atau hanya kita yang mengira-ngira kalo anak kita lapar?

Penting untuk tau bagaimana tubuh menciptakan rasa lapar dan rasa kenyang. Ini penting
karena kalo anak ga pernah merasa.lapar anak ga akan makan. Jadi, kenalkanlah anak dengan rasa lapar.

Masalah anak gak mau makan
menurut saya dimulai dari anak
enggak mengenal rasa lapar. Karena kelewat parno berat badan turun atau anak keliatan kurus, anak dijejelin mulu sama makanan kecil, apa aja dikasih
asal masuk makanan dengan cara apapun. Atau bahkan.sebagian besar akhirnya memilih
memberikan susu formula atau UHT..Susu sapi seperti kita tahu adalah minuman tinggi lemak. Sederhana aja buat saya, kalo anak ga mau makan, jangan gantikan dengan minuman.
Karena susu sapi tinggi lemak maka anak akan merasa mudah kenyang. Dalam jangka panjang, anak akan lebih memilih minum susu yang cenderung rasanya lebih enak, gak ribet minumnya dan dalam seketika bikin kenyang. Sederhana lagi kan,karena udah merasa kenyang dengan susu sapi, apakah salah kalo anak kita gak mau makan?

Ada kalanya anak emang enggak mau makan pada jam makan, bisa karena menu belum pas,
bisa karena belum mau makan karena.masih mau main dan bisa karena belum mau makan karena masih kenyang.

Ada hormon dalam tubuh kita yang mengatur rasa lapar. Jadi seorang anak ga akan membiarkan dirinya kelaparan, tapi hormon lapar ini enggak akan pernah muncul kalo anak selalu merasa kenyang. Apalagi ketika ga mau makan malah dikasih makanan yang manis-manis, tentu asupan gula darah akan tetap meningkat, bahan bakar untuk energi akan tetap ada.
Hasilnya sederhana, tubuh gak merasa.butuh bahan bakar, gak merasa lapar dan gak belum butuh makan.


2. Jangan jadi bos

Jadilah asisten pribadi buat anak kita yang tugasnya mengingatkan jadwal makan, menyiapkan makan dan bahkan menyuapi makan. Harusnya kita melanjutkan apa yang terjadi
ketika menyusui, pada masa itu kan yang jadi bos malah anak kita. Kalo dia lapar tinggal minta lewat tangisan. Begitu pun ketika anak sudah makan.
Ingatkan jadwal makannya,variasikan menu dan berhenti ketika dia sudah tidak mau makan. Yang sering terjadi adalah kita kelewat jadi bos,menganggap anak udah waktunya makan dan menganggap anak harusnya udah lapar. Ga mau makan nasi akhirnya kita sediakan
semua jenis makanan (baca: cemilan atau minuman).
Jadi kalo anak belum makan maka berhenti menawarkan dia makan. Tawarkan makan pada 30 menit atau 60 menit kemudian.Pada saatnya dia
lapar maka mekanisme alami dalam tubuh akan bekerja. Pada saat ini, secara otomatis anak pasti akan meminta makan.
Yang jadi bos harus anaknya, biarkan dia yang mengatur kapan mau makan atau tidak. Tugas kita sekedar mengingatkan waktu makan dan
menyiapkan makan.

3. Makan tidak harus nasi

Tau ga kalo 2 buah pisang nilai gizinya itu sama dengan 1 piring nasi? Dalam pedoman gizi seimbang (buat yang belum tau, pemerintah Indonesia udah enggak pake konsep 4 Sehat 5
Sempurna lagi sejak tahun 1995, iya itu berarti sejak 18 tahun yang lalu, sekarang namanya Pedoman Umum Gizi Seimbang) disebutin kalo nasi hanya SALAH SATU sumber karbohidrat, jadi masih banyak pilihan.

4. Libatkan anak

Biasakan selalu melibatkan anak dalam proses makan. Mulai dari menyiapkan makanan di dapur, posisi makan yang baik, berdoa sebelum makan hingga kebiasaan selesai makan. Pada akhirnya, ketika lapar anak akan mengikuti kebiasaan itu, mencari makanan sendiri ke dapur misalnya.
Kita terlalu sering menganggap bahwa anak itu engga tau apa-apa, tapi sebenarnya anak itu sedang merekam kebiasaan kita. Kita enggap pernah mengajarkan anak kita cara menelepon bukan? Tapi karena terlalu sering melihat kita menggunakan
handphone untuk menelepon,
seketika dia tau bahwa telpon harus diletakkan di telinga. Begitu juga dengan kebiasaan makan.

Ajarkan anak bahwa makan harus
duduk, kebiasaan ini bisa dibentuk dari sejak kecil kok.

Source:
1. Pengalaman Pribadi
2. http://rahmathidayat.tumblr.com/post/32797822465/gtm-sebuah-opini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s