Bapak Rumah Tangga

image

Pertanyaan ini selalu saja menjadi pertanyaan bagi saya sendiri. Sebenarnya sejak kapan mekanisme pembagian tugas, bahwa bapak bertugas mencari nafkah, sedangkan mengurus rumah adalah tugas istri? Bapak sepanjang hari bekerja,berangkat pagi pulang sore bahkan malam, istri bertugas mengurus rumah?

Bapak memenuhi kebutuhan, urusan rumah tangga, anak-anak terima beres.
Saya mencoba membaca kisah2 lama, cerita2 teladan, nasehat2 luhur, saya tidak menemukannya. Bahkan saya bingung, karena pada
kenyataannya, model Bapak Rumah Tangga jaman dulu, jauh lebih manusiawi. Lantas siapa yang memulai definisi tersebut, yang kemudian menjadi standar
kehidupan modern hari ini? Kenapa saya ingin sekali tahu hal
ini, karena saya punya pertanyaan serius berikutnya. Pertanyaannya simpel: bukankah kita semua tahu kalau anak-anak
kita adalah titipan Allah. Maka, hei, kepada siapa anak-anak tersebut dititipkan? Ini pertanyaan retoris. Karena jelas sekali jawabannya kepada “Bapak Rumah Tangga”. Bapaklah orang pertama yang memikul tanggungjawab atas anak-anak, karena dia kepala rumah tangga.

Nah, dengan kenyataan bahwa hari ini, hampir sebagian besar bapak-bapak memutuskan bekerja sepanjang hari, dimana kebenaran jawaban atas pertanyaan retoris tersebut? Berapa sisa waktu yang diberikan seorang bapak untuk anak-anak? Berapa lama seorang bapak menghabiskan waktu menemani anak-anak?

Saya tidak akan membahas hal ini panjang lebar, karena saya juga pusing memikirkannya, dan boleh jadi hanya akan menuai perdebatan. Saya akan mendaftar beberapa pemahaman baru yang dengan susah payah saya definisikan, mungkin benar, boleh jadi keliru. Toh, pengalaman saya berumah tangga baru seumur jagung, tapi kalau kita semua mau memikirkanya dengan lapang dada, bisa saya pastikan akan bermanfaat–terlepas dari benar kelirunya tadi.

1. Bapak Rumah Tangga adalah profesi.

Saya tidak bergurau. Saya serius sekali. Saya meyakini bahwa Bapak Rumah Tangga jelas adalah jenis pekerjaan. Jika semua bapak-bapak sibuk mengejar karir di kantor, mendaki posisi lebih tinggi, tidakkah kita semua mau memikirkan ulang bahwa menjadi Bapak Rumah Tangga juga adalah profesi kita. Jika kita belajar banyak demi pekerjaan dan masa depan kita, entah itu
menjadi dokter, akuntan, insinyur, dsbgnya, tidakkah kita juga belajar banyak demi menjadi Bapak Rumah Tangga yang baik. Soal ASI eksklusif misalnya, soal tumbuh kembang bayi, bahkan simpel soal pendidikan merokok di rumah, dengan bayi atau anak2 di sekitar, itu sama sekali tidak sehat. Belum hal-hal yang lebih serius dari itu. Nah, apakah profesi ini menjadi prioritas atau urusan kesekian? Lagi-lagi pertanyaan retoris.

2. Kita bekerja habis2an itu buat
siapa?

Semua orang pasti menjawab buat
keluarga, buat anak-anak, buat istri. Tapi dimanakah poin jawaban tersebut kalau kenyataannya kita jarang sekali menghabiskan waktu bersama anak-anak? Menyaksikan mereka tidur siang, mengajak
mereka bermain sepeda,menggendong mereka dsbgnya. Saya tidak akan meributkan soal kualitas kebersamaan atau kuantitas kebersamaan. Hanya mencoba memikirkan ulang, jangan-jangan, kita sudah habis2an bekerja demi anak-anak kita, ternyata yang mereka butuhkan justeru kehadiran
kita. Kita berikan uang, yang mereka butuhkan hanya senyuman. Kita berikan gagdet, mainan, yang mereka butuhkan sekadar pertanyaan simpel, sudah makan?
Lihatlah anak-anak, meski habis
dimarahi, habis dibentak, saat kita
pulang, mereka berteriak berlarian senang, seolah lupa habis dimarahi. Apakah kita akan menukar momen pendek masa kanak-kanak mereka dengan sesuatu yang mungkin memang berharga mungkin tidak. Bukankah masa kanak-kanak tidak
akan pernah kembali, sekali lewat, selamat tinggal, tapi kita bisa kapanpun kembali untuk memulai karir pekerjaan.

3. Siapa yang sebenarnya mendidik anak-anak kita? Siapa?

Apakah kita serahkan kepada
istri? Apakah kita serahkan kepada
baby sitter? Guru? Kakek/neneknya? Atau kita kirim saja ke boarding school, pesantren, habis urusan, 24 jam di sana sudah ada yang mendidiknya, dan kita tinggal mencari uang untuk membayar biaya pendidikannya. Siapa yang akan menanamkan ahklak? Memberikan teladan bagi anak-anak kita? Apakah fungsi terbesar dari Bapak Rumah Tangga? Mencari nafkah? Kalau iya, tugas terbesarnya sekadar mencari nafkah, maka sebenarnya kita tidak memerlukan seorang Bapak dirumah, kita hanya memerlukan pekerja, mesin uang.

4. Apa hak dan kewajiban anak-anak kita. Apa hak dan kewajiban Bapak Rumah Tangga?

Saya yakin sekali, seorang bayi yang dibuang pun, bisa bertahan hidup tanpa orang tuanya sepanjang diselamatkan oleh orang2 yg peduli. Anak-anak itu amat menakjubkan, mereka tetap tumbuh besar dengan segala keterbatasan. Mau bersama orang tuanya atau tidak, mereka tetap tumbuh besar. Tapi dimanakah kita meletakkan hak dan kewajiban anak-anak kita? Dan dimanakah kita meletakkan hak dan kewajiban Bapak Rumah Tangga? Jangan-jangan timbangannya sudah tidak seimbang lagi, berat sebelah. Jangan-jangan, kita sudah melenceng jauh sekali dari nasehat agama kita soal membesarkan anak-anak.
Saya paham–bahkan mengalaminya, tidak semua keluarga beruntung dengan kelapangan rezeki. Tidak semua. Tapi saya yakin, dengan segala keterbatasan yang dimiliki oleh orang tua, fungsi Bapak Rumah Tangga tidak pernah sesederhana mencari uang, bekerja sepanjang hari demi sesuap nasi seperti model orang tua modern hari ini. Toh, hidup ini memang penuh dengan cobaan. Justeru bukan saat kita memang lapang, lega bisa full memberikan perhatian kepada anak-anak pertanyaan atas tanggungjawab Bapak Rumah Tangga relevan, tapi justeru saat kita terpaksa bekerja sepanjang hari, pertanyaan itu mendesak untuk dipikirkan.

Siapa sih yang menyuruh kita
menikah? Allah. Kenapa kita harus menikah kalau ternyata beban kehidupan jadi bertambah,
pengeluaran semakin banyak? Karena disuruh Allah. Lantas siapa
yang menjamin rezeki anak-anak kita? Juga Allah. Dijamin langsung.
Maka, sungguh Allah akan melapangkan beban, membukakan pintu rezeki bagi Bapak Rumah Tangga yang paham sekali tanggung jawabnya atas anak-anaknya. Allah tidak akan mengkhianati kita. Justeru kitalah yang suka menggunakan tameng argumen agama. Jikalau sudah habis pikir, sudah terlalu pusing, dan tidak tahu apa seharusnya yg dilakukan seorang Bapak Rumah Tangga, maka saya seringkali merenungkan ini. Bahwa hidup di dunia ini sebentar sekali, dan lebih sebentar lagi saat tanggung jawab menjadi Bapak Rumah Tangga tiba. Kalau kita menikah di usia 25 tahun, paling hanya belasan tahun saja momen2 membesarkan anak, kemudian
sisanya 20, 30 tahun, waktu kembali ke kita sendiri, bahkan 40 tahun berlalu, kitalah yang akan merepotkan anak-anak. Jika di masa kanak-kanak mereka tidak kita temani, lantas apakah saat kita tua, kita berhak menuntut mereka ada untuk kita? Pikirkanlah apa yang penting, apa yang tidak penting dalam kehidupan ini. Sungguh, hidup ini sebentar, wusshhh…. 40
tahun kelak, dan catatan pendek ini hanya jadi kenangan seperti sekejap lalu saja.
Jika kalian masih remaja, masih usia sekolah, memikirkan hal ini
mungkin menarik. Siapkan diri
menjadi Bapak Rumah Tangga yang keren. Saya sudah bilang itu profesi, maka bersiap jauh2 hari amat membantu. Menakjubkan hasilnya saat kalian menikah, semua persiapan itu ternyata bermanfaat. Mulai dari pemahaman, skenario pekerjaan, penghasilan, dsbgnya. Semua sudah siap. Saya tidak bisa menceritakan lebih detail, belajarlah dari sekitar, mengamati.

Maka, aduhai, dititipkan ke siapa
anak-anak kita? Ke Bapak Rumah Tangga, orang pertama yang akan
ditanya.

2 thoughts on “Bapak Rumah Tangga

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s